Karena Pujian

Seekor burung gagak bertengger didahan pohon jambu air. Badannya tidak bergerak, matanya yang tajam menatap ke bawah. Apa yang sedang diperhatikannya? Oh..ternyata dibawah sana ada sebuah nyiru yang penuh ikan yang sedang dijemur. “Makanan lezat” piker burung gagak sambil menahan air liurnya yang terbit. Tetapi ia tidak berani menyambar ikan itu. Seorang anak yang memegang tongkat tampak dengan sabarnya menunggu jemuran ikan itu.

Perut burung gagak yang sejak pagi belum terisi makanan itu semakin keroncongan. Bau ikan yang mengundang selera membuatnya semakin kelaparan. Dan hai, lihatlah, anak yang menjaga ikan itu kini pergi. burung gagak tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan sigap ia mengepakkan sayapnya, lalu terbang menukik dari dahan pohon jambu. Matanya yang tajam dan terlatih sudah terpaku pada seekor ikan yang paling besar. Lalu paruhnya mematuk, hap!!

Ikan besar itu berkilap-kilap dalam paruh burung gagak yang kemudian menyambar lagi terbang ke atas-terbang jauh membawa ikan curiannya. Sambil terbang, dicarinya tempat yang nyaman untuk melahap ikan itu. Akhirnya burung gagak hinggap pada dahan pohon mengkudu yang rimbun. Tempat yang teduh dan tepat untuk menimati makanan selezat itu.

Ah..tetapi ikan sebesar itu tentulah tidak bisa dimakannya sekali telan. “Mungkin harus kupatuk-patuk dulu sedikit demi sedikit,” piker burung gagak. Baru saja ia hendak meletakkan ikan itu pada dahan pohon yang lebar, ia melihat seekor kucing dating mendekati. “Selamat siang sahabat!!” tegur kucing itu dari bawah dengan ramah. Bau ikan itulah tentu yang mengundang kucing itu menengok ke atas. Ikan yang besar dan lezat, pikir kucing itu sambil menyembunyikan maksud buruknya untuk menikmati ikan itu juga.

Burung gagak tentulah tidak bodoh. Kucing itu tentu saja tidak akan menyapanya bila ia tidak membawa ikan besar di paruhnya itu. Diurungkannya meletakkan ikan itu di dahan, bahkan paruhnya menggigit lebih keras agar ikan tersebut tidak jatuh ke bawah.

Kucing pun tidak kehilangan akal untuk mendapatkan ikan itu. “Apa kabar gagak yang baik,” sapa kucing lagi. Ia hanya mengharapkan gagak menjawab sapaannya. Dengan membuka paruhya tentulah ikan itu akan jatuh dan mudah direbutnya. Tetapi paruh gagak itu tertutup rapat.

“Sudah lama aku tidak melihatmu sahabat,” lanjut kucing. “Aku sudah rindu melihat bulumu yang mengkilat bagai beludru.”

Gagak tetap membungkam, menjepit iakan itu erat-erat dalam paruhnya. Tetapi kucing tetap meneruskan rayuannya. “Kau tahu sahabatku, aku sangat iri dengan matamu yang kecil dan jeli itu. Jangan ikan yang besar, ikan kecil dalam lubangpun tidak luput dari amatanmu. Dan…wah, kecepatanmu menyambar mangsa itu tentu tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh bangsa kucing.”

Tidak ada jawaban dari atas pohon mengkudu itu. “Tetapi” kata kucing terus memuji, “yang paling kukagumi sebenarnya adalah suaramu. Begitu merdu suaramu. Kemarin pagi sempat kudengar nyanyianmu yang membuaiku lebih indah daripada mimpi. Alangkah berbahagianya aku bisa menemuinya hari ini. Maukah engkau menyanyikan sebuah lagu untukku? Sekali saja sahabatku, biar aku dapat menikmati alunan suara merdumu.”

Dan pujian yang terakhir itu benar-benartelah meluluhkan hati si burung gagak. Apalagi dengan permintaan yang begitu memikat. Tanpa berpikir panjang, ia pun mengeluarkan suaranya dengan nyaring, “Gaak…gaak…!”

Begitu paruhnya terbuka, ikan itupun melayang jatuh, tepat ke dalam mulut kucing yang memang sudah siap menunggu. Kucing pun berlari pergi, membawa ikan besar yang lezat itu tanpa berterima kasih.

Burung gagak terkejut. Ia terkecoh. Ia memang kurang berhati-hati. Mestinya ia sudah mengetahui BAHWA TIDAK SETIAP PUJIAN KELUAR DARI HATI YANG TULUS.

(Written by: Ny. Sukarmi; Taken from: Majalah Balita No 30, November 1983)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s